Sudah viral di media massa bahwa Jokowi berhasil membangun pelabuhan Tanjung Priok setelah 8 tahun dibuat mangkrak. Mulai dari akses tol, lokasi serah terima barang, sampai dengan sistem informasinya, semua tersedia, layaknya sebuah pelabuhan kelas internasional.
Ya, memang betul, Tanjung Priok adalah pelabuhan kelas internasional yang dibuat oleh Presiden Joko Widodo. Prestasi luar biasa Presiden Jokowi untuk Jakarta membuktikan keberhasilannya di dalam menepati satu dari banyak janji kampanyenya pada tahun 2014 silam.
Sempat banyak orang yang mencurigai Pak Dhe pada saat itu di dalam keputusan menjadi kandidat calon presiden Republik INdonesia. Banyak orang pada saat itu mengatakan Jokowi tidak lebih dari presiden boneka, ia pun belum tuntas di Jakarta namun sudah mau meguasai Indonesia, petugas partai, dan berbagai-bagai label yang dilontarkan oleh kaum oposisi, bahkan warga Jakarta pada saat itu.
Namun Jokowi dengan sederhana mengatakan bahwa ketika ia menjadi Presiden, justru penyelesaian permasalahan kota Jakarta jauh lebih cepat. Dan pada akhirnya kalimat sederhana yang nyaris mustahil dikerjakan oleh orang lain, rampung satu per satu dalam waktu kurang dari tiga tahun, dengan bantuan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.

Dengan keberadaan mereka, kinerja Jokowi benar-benar terlihat. Ibarat umpan lambung, Ahok dan Djarot berhasil memberikan umpan lambung pembangunan infrastruktur di Jakarta, kepada Joko Widodo.
Dengan transparansi anggaran yang dikembangkan oleh Pemprov DKI, pemerintah pusat pun sangat terbantu dan mudah mengelola keuangan di Jakarta. Salah satu hasil kerja dari kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ahok dan Pemerintah Pusat RI di bawah komando Jokowi, adalah Pelabuhan Tanjung Priok.

Pelabuhan bertaraf internasional ini merupakan pelabuhan yang paling modern di Indonesia. Bisa dikatakan pelabuhan ini adalah ‘The new look of Sunda Kelapa Harbor’. Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan tertua di Jakarta. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa direncanakan menjadi kawasan wisata, karena nilai sejarah yang sangat tinggi.
Mungkin saja suatu saat, pelabuhan ini sudah tidak menjadi tempat transportasi logistik, melainkan menjadi sebuah objek wisata. Seluruh operasional transportasi logistik akan dipindahkan ke pelabuhan Tanjung Priok dengan segala kelengkapan infrastruktur yang memudahkan para distributor untuk mendistribusikan barang-barang mereka baik impor maupun ekspor.
Mulai dari Jalan Tol Akses Tanjung Priok yang sudah rampung 100%, dipastikan dapat mengurai kemacetan di kawasan Tanjung Priok. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakuyat, Basuki Hadimuljono berjanji akan memberikan kinerja sepenuhnya untuk pembangunan tol ini.

Sebelum rampung, kita tahu bawha Tol Akses Tanjung Priok yang bernilai 5T ini sangat dinantikan keberadaannya, karena kemacetan di jalan biasa yang tidak tertolong lagi. Jalan Tol Akses Tanjung Priok ini terhubung langsung dengan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR). Tol JORR pun terkoneksi juga dengan Tol Dalam Kota.
Tol Akses Tanjung Priok juga terdiri dari 5 seksi. Seksi E-1 Rorotan-Cilincing sepanjang 3,4 km, Seksi E-2 Cilincing-Jampea sepanjang 2,74 km, seksi E-2A Cilincing-Simpang Jampea sepanjang 1,92 km, seksi NS Link Yos Sudarsi-Simpang Jampea sepanjang 2,24 km dan seksi NS Direct Ramp sepanjang 1,1 km memakan biaya Rp 380 miliar.

Selama ini kita tahu bahwa para anggota parlemen baik dari DPR maupun pemerintah sering kali melakukan studi banding di luar negeri. Namun tidak sedikit yang kembali dengan tangan hampa dan otak yang hampa. Berbeda dengan mereka yang seperti itu, Kementerian PUPR di bawah kepemimpinan Basuki Hadimuljono tidak demikian.
Kita tahu bahwa pemerintahan Jokowi sedang kencang-kencangnya membangun infrastruktur penunjang antar lokasi. Tanpa pengetahuan yang cukup, tentu kinerja kementerian PUPR pun terhambat. Kondisi ini pun mendorong mereka untuk melakukan studi ke Jepang, dan belajar mengenai pengelolaan Jalan Tol.
Berhubung pekerjaan terus bertambah dan jalan tol yang semakin banyak, mereka pun butuh perangkat lunak. Perangkat lunak macam apa yang mereka butuh? Sederhana saja, mereka membutuhkan sistem informasi dan sistem manajemen yang baik untuk mengelola.
Jalan tidak hanya dibangun, melainkan perlu perawatan, pengkondisian, pencocokan dengan tanah tempat dibangun, dan sebagainya. Bila tidak ada software tersebut, dapat dipastikan keberadaan infrastruktur yang dibangun akan menjadi masalah besar bagi pemerintah, baik dari segi keamanan maupun pengelolaan.
Kedatangan Basuki dan jajaran kementerian PUPR pun membuahkan hasil. Mereka belajar banyak di dalam kunjungan kerja mereka. Pengadaan control room yang modern dan peletakan CCTV di sepanjang jalan menjadi solusi yang dapat dikerjakan. Dengan demikian, pihak pengelola Tol tentu akan terbantu dan penanganan akan jauh lebih cepat.

“Jaringan jalan tol di Indonesia pada akhir 2014 mencapai 780 km. Ditargetkan hingga akhir tahun 2017 ada tambahan 568 km. Semakin panjangnya ruas jalan tol menuntut Badan Usaha/Operator Jalan Tol untuk lebih meningkatkan layanan pemantauan penggunaan jalan tol melalui control room yang modern, sehingga layanan keamanan, keselamatan, kenyamanan dan kecepatan bisa lebih kita tingkatkan lagi” jelas Basuki dalam keterangan tertulis, Senin (17/7/2017).
Kembali ke Tanjung Priok, keberadaan Tanjung Priok tentu menjadi sangat krusial. Sejarah pernah mencatat bahwa Jakarta pada masa kolonialisme Belanda menjadi sebuah hot spot bagi distribusi barang. Di dalam pembangunan Tanjung Priok, tentu diharapkan Indonesia dapat meningkatkan pendapatan mereka melalui sektor jasa. Ekonomi Indonesia akan semakin kuat.

Tanjung Priok sudah menjadi satu pelabuhan bertaraf internasional, yang sudah beroperasi, dan akan dikembangkan lebih jauh lagi. Infrastruktur Tol sudah rampung, dan pulau-pulau reklamasi di Tanjung Priok sudah dipergunakan. Maka tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa dengan pembangunan pelabuhan di atas pulau reklamasi tersebut, Jokowi berhasil membangkitkan visi kelautannya.
Jokowi tidak memakai pulau reklamasi Tanjung Priok untuk membodoh-bodohi rakyatnya. Justru ia membangun pulau reklamasi, untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya, tanpa korupsi maupun isu-isu SARA yang digunakan. Tentu para pembaca Seword tahu siapa yang saya maksudkan. Itu bukan cara bermain Presiden Jokowi. Mari kita doakan bahwa Pak Dhe tetap berada di bawah lindungan Tuhan, dan tetap setiap kepada NKRI!

Betul kan yang saya katakan?
Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut:
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3562832/menteri-pupr-belajar-pengelolaan-jalan-tol-hingga-ke-jepang
