Rumah itu diduga menjadi tempat produksi obat paracetamol caffein carisoprodol (PCC).
Rumah dengan pagar kuning itu juga sudah diberi garis polisi di bagian pagar dan pintu pagar.
Beberapa petugas tampak silih masuk rumah itu untuk memastikan jumlah obat PCC yang disita.
“Di dalam masih dihitung berapa jumlahnya,” kata Kepala BNN Provinsi Jateng Brigradir Jenderal Tri Agus Heru, saat meninjau rumah itu, siang tadi.
Menurut Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigadir Jenderal Irwanto, rumah di Jalan Halmahera digunakan sebagai tempat produksi dengan dua buah mesin.
Sementara satu rumah di Jalan Medoho Semarang digerebek karena menjadi gudang penyimpanan obat PCC.
Pemilik Pabrik Pil PCC di Semarang Untung Rp 2,7 M per Bulan
Penghasilan pemilik pabrik PCC di sebuah rumah mewah di Kota Semarang mencapai Rp 2,7 miliar setiap bulan. Gaji karyawan pun cukup tinggi.
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengatakan dalam sehari mereka bisa menghasilkan 9 juta butir obat terlarang PCC dan Dextro. Keuntungan Rp 2,7 miliar yang diterima 2 tersangka utama yaitu Joni (38) dan Ronggo (52) sudah merupakan keuntungan bersih setelah menggaji karyawan.
“Rp 2,7 miliar dapat keuntungan bersih. Ini karyawan digaji Rp 9 juta, Rp 5 juta (per bulan), macem-macem,” kata Buwas saat jumpa pers di lokasi, Jalan Halmahera, Semarang, Senin (4/12/2017).
Mereka mengirim produknya ke Kalimantan untuk diedarkan. Kemasan ada yang dikemas per 1.000 butir dan ada yang dikemas dengan memalsukan merek obat tertentu. Pengiriman bervariasi sesuai pesanan.
“Ini 1 dus 20 ribu butir. Pengirimannya ke wilayah-wilayah. Ada yang terima 1 orang 50 dos berarti 1 juta butir,” tandas Buwas.
“Satu butir Rp 3.000 sampai Rp 6.000,” imbuhnya.
Dari penghasilan yang sangat banyak itu, BNN bersama Polri akan melacak indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) termasuk aliran dana dari tersangka.
Untuk diketahui, pabrik PCC berskala besar itu digrebeg hari Minggu (3/12) kemarin. Ada 13 tersangka diamankan termasuk dua pelaku utama. Selain di Semarang, pabrik PCC yang dikelola Joni juga digrebeg di Solo.
Buwas cukup geram dengan para tersangka karena keuntungan yang besar tersebut dinikmati dari penderitaan para pemakai obat yang rata-rata adalah anak-anak.
“Ini memang manusia biadab. Ini (pelaku) gemuk-gemuk kan, (pelaku) ketawa-ketawa. Kegemukan dari hasil penderitaan anak-anak,” tegasnya.
Produksi 9 Juta Pil per Hari, Pabrik PCC di Semarang Kedap Suara
Pabrik PCC di Kota Semarang, Jawa Tengah menggunakan rumah mewah yang dipasang peredam suara. Para tetangga pun tidak tahu ada kegiatan produksi di sana.
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengatakan produksi para tersangka sudah profesional karena menggunakan mesin canggih dan juga memasang kedap suara untuk menyamarkan kegiatan di sana.
“Ini bukan tidak profesional. Di dalam mesin cetak canggih sudah khusus, kedap suara. Jadi di sini tidak kena (suaranya), tertutup,” kata Buwas di lokasi, Jalan Halmahera Raya, Kota Semarang, Senin (4/12/2017).
Tembok kedap suara tersebut berwarna kuning. Ruangan yang ada mesin produksi dari bahan mentah menjadi butiran obat dan ruangan pengemasan dengan mesin packing, semuanya bertembok kedap suara.
Salah seorang penjaga keamanan di perumahan tersebut, Mulyono (41) mengatakan kegiatan di rumah tersebut sangat tertutup. Setiap ada mobil masuk, gerbang langsung ditutup. Ia pernah menanyai satu pekerja yang keluar rumah dan diakui di dalam rumah itu produksi roti.
“Aktivitasnya katanya mau dibuat roti. Kalau keluar masuk pintu langsung ditutup,” ujar Mulyono kemarin.
Untuk diketahui, pabrik PCC tersebut mampu memproduksi 9 juta butir pil PCC dan Dextro setiap harinya. Ada 13 tersangka yang diamankan dalam pengungkapan tersebut.
Buwas Tunjukkan Ruangan Pabrik PCC di Semarang
Rumah mewah yang digunakan untuk pabrik PCC di Kota Semarang dibagi menjadi beberapa bagian mulai dari pengolahan bahan mentah hingga pengemasan.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso menunjukkan proses pembuatan obat terlarang itu yang ada di Semarang, Jawa Tengah itu.
Buwas mengajak masuk dari pintu samping dan langsung ada tumpukan bahan baku di ruangan pertama yang ditemui. Ia menjelaskan bahan baku langsung dibawa ke ruang pengolahan berisi mesin pengoplos, mesin pengayak, dan tempat pengering.
“Ada 3 jenis bahan dituang di situ, diolah, dicampur, setelah dicampur diayak jadilah tepung halus, dikeringkan,” kata Buwas di ruang pengolahan bahan baku pabrik PCC di Jalan Halmahera Nomor 27 Semarang Timur, Senin (4/12/2017).
Dia kemudian menunjukkan ruang berikutnya yang berisi mesin pencetak butiran obat. Bahan baku yang sudah diolah dan dikeringkan berupa bubuk dimasukkan dari atas mesin.
“Dicetak di sini. Sekali cetak 35 butir (per detik) kemudian diangkut ke ruangan sebelah,” paparnya.
Ruangan berikutnya merupakan ruangan pengemasan. Butiran obat dikemas dalam kaplet berisi 10 butir. Produsen PCC menggunakan merek obat yang cukup ternama untuk dipalsukan.
“Jadinya banyak, sehari bisa 9 juta butir,” tandas Buwas sambil menunjukkan obat yang sudah dikemas kaplet.
Selain kaplet, obat PCC maupun Dextro yang diproduksi juga diolah per seribu butir satu plastik. Kemudian dikemas dalam dos dan dikirim ke pemesan yang rata-rata berada di Kalimantan.
Ruangan-ruangan yang digunakan untuk tempat produksi dan pengemasan dilengkapi dengan tembok kedap suara berwarna kuning. Fungsinya agar para tetangga tidak tahu ada aktivitas mesin di rumah yang disewa tersangka bernama Joni itu.
“Ini bukan tidak profesional. Di dalam mesin cetak canggih sudah khusus, kedap suara. Jadi di sini tidak kena (suaranya), tertutup,” pungkas Buwas.
Untuk diketahui, ada 13 tersangka yang diamankan termasuk Joni. Keuntungan bersih yang diperoleh Joni dan jaringannya bernama Ronggo mencapai Rp 2,7 miliar. Indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) juga akan ditelusuri.
Plak! Buwas Timpuk Pemilik Pabrik pakai Sebungkus Pil PCC
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso terlihat cukup geram ketika bertemu dua tersangka utama kasus pabrik PCC di Semarang. Saking gemasnya, Buwas sempat menghentakkan sekaplet PCC isi 10 butir ke jidat tersangka bernama Joni.
Buwas dan Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono sempat menanyai dua pelaku utama Joni dan Ronggo sebelum jumpa pers dimulai di lokasi Jalan Halmahera nomor 27 Semarang. Kapolda bertanya kepada Joni soal pengiriman barang, tapi Joni justru mengaku hanya mengirim untuk perorangan.
“Ini perorangan saja, Pak,” kata Joni menjawab pertanyaan Kapolda, Senin (4/12/2017).
“Masa perorangan?” tanya Condro lagi.
“Ra usah mbujuki (nggak usah bohong). Ini jumlahnya besar, ngawur wae (ngawur saja),” imbuh Buwas sambil mengeplak satu kaplet PCC ke jidat Joni. Plak!
Buwas juga sempat menanyai apakah para pelaku pernah mengicip obat yang mereka buat. Joni mengaku pernah dan digunakan untuk mengobati pegal-pegal, sedangkan Ronggo belum pernah sama sekali.
“Pernah, Pak. Buat pegal-pegal,” ujar Joni.
Dengan beberapa kali terungkap pabrik PCC dan peredarannya, Buwas sangat geram karena korban kebanyakan anak-anak. Dampaknya dari PCC pun mengerikan karena bisa membuat pemakainya seperti zombie dan membahayakan nyawa.
“Pengaruhnya seperti tembakau gorila, kalau berlebihan seperti flaka, buktinya mereka seprti zombie, loncat ke laut dan meninggal,” tegas Buwas.
Dengan tegas Buwas juga menyebut dua pelaku ini biadab karena merusak generasi muda. Apalagi setelah tahu pelaku Ronggo merupakan jaringan yang berada di Tasikmalaya dan menikmati keuntungan dengan kerja santai.
“Dia ongkang-ongkang di Tasikmalaya. Dapat uang dari penderitaan korban yang masih anak-anak,” ujarnya.
Untuk diketahui pabrik di Semarang bisa memproduksi 9 juta butir PCC dan Dextro setiap harinya. Dua pelaku utama tersebut mendapat keuntungan bersih Rp 2,7 miliar per bulan. Sedangkan 11 tersangka lain yang merupakan karyawan mendapat gaji Rp 5 juta sampai Rp 9 juta per bulan.
Buwas Geram, Sebut Pemilik Pabrik PCC di Semarang Gemuk dan Biadab
Kepala BNN Komjen Budi Waseso atau Buwas tampak geram kepada dua pelaku utama terungkapnya pabrik pil PCC di Semarang. Buwas menyebut keduanya sebagai manusia biadab dan gemuk karena penderitaan anak-anak.
“Ini memang manusia biadab. Ini (pelaku) gemuk-gemuk kan, (pelaku) ketawa-ketawa. Kegemukan dari hasil penderitaan anak-anak,” ujar Buwas sambil menunjuk dua pelaku saat jumpa pers di lokasi pabrik di Jalan Halmahera, Semarang, Senin (4/12/2017).
Saat itu dua pelaku yakni Joni (38) dan Ronggo (52) duduk terpisah dari Buwas. Wartawan tak bisa melihat ekspresi mereka saat Buwas mengatakan hal itu. Sepanjang jumpa pers, Joni dan Ronggo tampak terus menundukkan kepalanya. Ekspresi wajah keduanya tampak datar.
Joni sempat tampak tersenyum saat Buwas menyodorkan sepiring pil PCC kepada rekannya Ronggo.
Buwas mengatakan bahwa para tersangka sudah profesional dalam menjalankan bisnisnya. Pabrik ini menggunakan mesin canggih dan juga memasang kedap suara untuk menyamarkan kegiatan di sana.