Pembahasan RUU Pemilu menyisakan sebuah cerita yang menarik dan lucu. Bukan lucu yang membuat kita tertawa terbahak-bahak, melainkan lucu karena akan membuat kita senyam senyum penuh arti. Ya, saat Rapat Paripurna seharian di gedung DPR, Fahri Hamzah terlihat sangat setia menempel Setya Novanto.
Tentu saja bukan saya yang menyaksikannya sendiri karena saya tidak ada di gedung DPR, melainkan laporan dari seorang jurnalis yang hadir di Gedung DPR Senayan. Berikut pengakuannya..
Iman Sjafei @imanlagi
Tadi seharian di Gd. DPR, dan melihat Fahri Hamzah selalu setia nempel Setya Novanto di manapun dan kapanpun. ❤️
Ya, berdasarkan kesaksian bro Iman, Fahri kini sudah seperti ekornya Setya Novanto. Selalu setia menempel di manapun dan kapanpun. Kesetiaan menempel itu pun dipertegas dengan lambang ❤️. Menggambarkan ada sesuatu yang lebih dari sebuah kedekatan tempel menempel antara Fahri dan Setya.
Kedekatan yang menurut saya tidak lazim karena Fahri akan dengan mudah dan garangnya membela Setya Novanto jika ada kasus dan permasalahan yang dikaitkan kepada Ketua DPR tersebut. Lihat saja bagaimana dia menantang KPK untuk menunjukkan bukti uang yang diterima Setya Novanto.
Padahal, kalau Fahri meminta menunjukkan uang sebanyak 500 miliar lebih apa iya Setya menerima uang tersebut tunai?? Sangatlah tidak mungkin. Apalagi uang sebanyak itu kalau mau dibawa pakai mobil box tidak akan cukup. Lalu bagaimana caranya?? Biarlah nanti KPK yang akan mengungkapkannya.
Pembelaan Fahri terhadap Setya Novanto bukan hanya kali itu saja. Fahri hampir selalu membela Setya Novanto. Saat Setya Novanto dicekal keluar negeri oleh KPK, Fahri pun langsung membela membabi buta dan mengirim nota keberatan kepada Presiden Joko Widodo perihal pencekalan tersebut.
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan surat itu saat ini sedang dituntaskan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR. Ia juga akan memeriksa surat itu sebelum dikirim sesuai dengan amanat Badan Musyawarah. “Setelah itu, akan dikirim,” ucapnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 12 April 2017.
Bahkan saat Rapat Paripurna dimana 4 fraksi walk out, salah satunya adalah PKS, Fahri tetap saja tinggal dan menempel di samping Setya Novanto. Bagaimana tidak, diantara pimpinan DPR, hanya Setya Novanto saja yang menjadi perwakilan partai pendukung pemerintah. Kalau seandainya hanya Setya Novanto ada di depan, maka akan menjadi sebuah preseden buruk di dunia Internasional.
Tetapi benarkah Fahri Hamzah benar-benar mementingkan masalah keetisan pimpinan DPR untuk tidak ikut walk out bersama PKS, partai yang ketuanya tidak lagi menganggapnya kader?? Saya sangat meragukannya. Karena soal etika sangat jauh dari karakternya Fahri. Apalagi dalam persoalan yang bertentangan seperti ini. Lalu apa penyebabnya?? Mari kita tanya kenapa.
Apakah ada kaitannya kedekatan Fahri terhadap kasus E-KTP?? Apakah Fahri takut kalau Setya Novanto akan menyeretnya ke dalam sebuah kasus?? Mungkin saja bukan kasus E-KTP tetapi kasus lain yang sampai saat ini masih berpeluang menjerat tersangka-tersangka baru. Kasus itu adalah kasus Hambalang.
Kasus Hambalang ini masih terus dikerjakan oleh KPK untuk menjerat tokoh-tokoh lain yang menikmati hasil jarahan proyek hambalang. Hal ini ditegaskan KPK yang berjanji bahwa tersangka tidak hanya akan berhenti di Andi Zulkarnain Mallarangeng atau Choel Mallarangeng saja. Saat ini, KPK masih menelisik kemungkinan adanya tersangka lain di kasus tersebut.
“Kalau dilihat dari keterangan sebelumnya mungkin tidak berhenti di dia. Masih ada beberapa hal lagi yang bisa didalami,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Minggu (19/2/2017).
“Semua peran serta orang yang terlibat di situ semua harus bertanggung jawab,” imbuh Saut menegaskan.
Apakah hal ini juga berarti pemberitaan yang sebenarnya juga adalah fakta persidangan bahwa Fahri disebut menerima uang sebesar 25.000 dollar AS juga sedang ditelisik?? Entahlah, tetapi kalau melihat ganasnya Fahri menyerang KPK, maka kemungkinan besar hal ini bisa saja benar. Apalagi ini bukan isu tetapi fakta persidangan.
Mantan anak buah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, Yulianis, adalah saksi kunci yang mengaku pernah memberikan uang dalam amplop sebesar 25.000 dollar AS kepada politikus Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah. Hal ini disampaikannya dalam persidangan kasus dugaan korupsi Hambalang dengan terdakwa mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.
Jadi, kalau Fahri menempel terus dengan Setya Novanto, maka satu saja yang harus terus kita pikirkan. Ini pasti ada kaitannya dengan kasus hukum. Sesama mafia setia begitu menempel apalagi kalau bukan persoalan garong menggarong uang rakyat. Apa iya soal membela kepentingan rakyat?? Muke Loe JAUHHH..
